Sore itu, pada Mei 2025, saya berdiri sambil memegang satu paket kecil. Dibungkus bubble wrap hitam. Isinya memang hanya sebuah buku. Tapi entah mengapa, rasanya membuat perasaan campur aduk—antara nyata dan seperti mimpi. Bukan karena isinya, tapi karena harapannya.
Saya masih ingat jelas perasaan waktu itu. Antara terharu dan senang. Ternyata, ada juga yang membeli buku yang saya tulis sendiri. Saya duduk di depan pintu, menatap paket itu cukup lama sambil menunggu yang akan menjemputnya. Seolah ingin memastikan, ini benar-benar terjadi, bukan sekadar bayangan.
Di dalam rumah, ada anak kecil kami yang baru berusia dua bulan. Masih belum mengerti apa-apa. Tapi justru karena itu, semuanya terasa lebih berarti. Sesekali saya menatapnya, dalam hati bertanya—apakah ini awal dari rezekinya, atau ada harapan dari orang lain yang sedang saya kirim?
“Ternyata, mimpi bisa dimulai dari sesuatu yang sangat kecil. Bahkan dari satu paket sederhana.”
Hari itu, saya tidak hanya mengirim buku. Saya mengirim harapan.

Saya tinggal di sebuah desa, Desa Babbalan, Dusun Toros, Kecamatan Batuan, Kabupaten Sumenep. Sebuah desa yang mungkin tidak banyak dikenal orang. Terletak di ujung timur Pulau Madura, dengan ritme hidup yang sederhana dan tenang, jauh dari hiruk pikuk perkotaan.
Namun, bukan berarti hidup saya selalu dalam kesunyian desa. Setiap hari, saya berangkat bekerja pukul 05.30 pagi, dengan harapan bisa sampai kantor pukul 07.00. Saya bekerja di kota sebelah, Kabupaten Pamekasan.
Perjalanan menuju ke sana bukan hal yang ringan. Saya harus menembus gemuruh kendaraan, naik motor ke terminal Sumenep, lalu melanjutkan dengan bus, kemudian naik motor lagi dari terminal Pamekasan menuju kantor.
Perjalanan itu saya jalani setiap hari. Pergi dan pulang. Hingga sekitar pukul 17.00 saya tiba kembali di rumah, sering kali dengan badan yang sudah lelah. Rutinitas itu terus berulang. Hari demi hari.
Tapi di balik rutinitas itu, ada satu hal yang terus saya pikirkan—terutama saat duduk di dalam bus. Saya ingin membuat sesuatu. Sesuatu yang bisa bermanfaat. Sesuatu yang tidak hanya berhenti di diri saya.
Di kantor, saya terbiasa bekerja dengan data. Bisa dibilang, saya cukup terbiasa menggunakan Excel dalam pekerjaan sehari-hari. Dari situlah muncul keinginan untuk berbagi.
Saya sempat berpikir untuk membuka les Excel secara langsung. Tapi melihat keterbatasan waktu dan tenaga, saya mulai bertanya—mengapa tidak membuat buku atau kursus online saja?
Saya melihat banyak orang ingin belajar Excel, tetapi buku yang beredar sering kali terlalu umum. Tidak benar-benar menjawab kebutuhan di dunia kerja.
Dari situlah saya mulai menulis.
Perlahan. Di sela waktu yang tersisa.
“Kadang, bukan waktu yang kita tunggu. Tapi keberanian untuk memulai di tengah keterbatasan.”
Dan dari desa kecil ini, saya mencoba memulai.

Saya tidak ingin sekadar menulis buku. Saya ingin membuat sesuatu yang benar-benar dipakai dan bermanfaat.
Awalnya sederhana. Saya melihat banyak orang kesulitan belajar Excel. Bukan karena tidak mau belajar, tetapi karena tidak tahu harus mulai dari mana. Buku yang ada terasa terlalu umum. Terlalu jauh dari praktik.
Padahal di dunia kerja, yang dibutuhkan bukan sekadar teori, tetapi kemampuan menyelesaikan masalah.
Dari situlah saya mulai menyusun buku Super Excel. Saya membuatnya dengan pendekatan yang berbeda. Berbasis studi kasus. Dilengkapi latihan. Disusun dari dasar hingga lanjutan. Bahkan saya lengkapi dengan kelas online dan file latihan.
Saya ingin orang belajar, lalu langsung bisa.
Prosesnya tidak mudah. Saya menulis di sela waktu yang tersisa. Kadang malam. Kadang saat tubuh sudah lelah. Kadang hanya mampu menulis beberapa halaman.
Tapi setiap halaman terasa penting.
“Saya percaya, ilmu yang baik bukan yang rumit, tetapi yang bisa dipahami dan digunakan.”
Saya tidak tahu seberapa jauh buku ini akan pergi. Tapi saya tahu satu hal: jika satu orang saja bisa terbantu, itu sudah cukup berarti.
Dan dari situlah semuanya dimulai.
Doa, Harapan dan Rezeki
Setelah buku itu selesai, tantangan berikutnya muncul. Bukan lagi menulis, tetapi produksi. Bahkan lebih dari itu—memasarkan hingga mengirim.
Singkat cerita, saya menerbitkan buku ini secara mandiri. Saya mencari percetakan sendiri, mengurus semuanya sendiri. Setelah itu, muncul pertanyaan berikutnya: bagaimana cara memasarkannya?
Di era sekarang, banyak sekali media pemasaran yang bisa digunakan. Mulai dari marketplace, iklan digital, hingga social commerce. Bermodalkan sedikit pengetahuan tentang digital marketing, saya akhirnya memutuskan menggunakan TikTok.
Perasaan saya saat itu juga campur aduk. Mulai dari membuat video pertama, mendaftar sebagai TikTok Seller, hingga berusaha konsisten membuat konten. Perlahan, saya mengumpulkan pengikut. Hingga akhirnya mencapai 600 follower dan bisa membuka fitur keranjang kuning.
Singkat cerita, pada suatu sore di bulan Mei itu, doa, harapan, dan rezeki seperti bertemu dalam satu titik. Buku saya untuk pertama kalinya terjual.

Saat itu, saya memilih JNE. Saya mendengar dari banyak orang bahwa layanan JNE di daerah saya cukup baik—ramah dan bisa diandalkan. Saya pun mengatur di TikTok Seller agar pengiriman hanya menggunakan JNE, dengan layanan pickup ke rumah.
Perasaan saya kembali campur aduk. Senang. Terharu. Ternyata ada juga yang membeli buku saya.
Dengan perasaan antusias, saya mulai membungkus buku itu menggunakan bubble wrap hitam, dibantu istri. Sambil menunggu kurir JNE datang menjemput paket, saya sempat terdiam sejenak. Merenung.
Apakah ini kebetulan? Atau memang awal dari sesuatu?
Saya berdiri di teras depan rumah saat menyerahkan paket itu. Ada rasa lega. Ada juga sedikit takut.
Apakah ini akan berlanjut? Atau hanya berhenti di sini?
“Terkadang, langkah paling berani bukan yang besar. Tapi yang pertama.”
Dan hari itu, saya melangkah. Bersama satu paket kecil. Bersama JNE.
Setelah paket pertama itu dijemput oleh kurir JNE, ada perasaan yang sulit dijelaskan. Tidak sepenuhnya lega, namun juga tidak lagi seragu sebelumnya.
Di rumah, anak saya yang baru berusia dua bulan tertidur lelap. Kecil. Tenang. Tidak tahu apa-apa tentang perjuangan yang sedang saya jalani.
Saya duduk cukup lama. Memandangnya.
Di momen itu, semuanya terasa nyata.
Saya tidak hanya menulis buku. Saya sedang berusaha. Untuk keluarga kecil ini. Untuk masa depan yang mungkin belum terlihat jelas. Dan lebih dari itu, saya juga sedang mengantarkan harapan—agar ilmu yang saya tulis benar-benar bermanfaat.
“Tanggung jawab tidak selalu datang dengan suara keras. Kadang ia hadir dalam diam, tapi terasa sangat dalam.”
Saya sadar, satu paket itu bukan sekadar transaksi. Tapi awal dari sesuatu yang lebih besar. Awal dari harapan, agar ilmu itu bisa sampai dan memberi manfaat bagi siapa pun yang menerimanya.
Dan sejak saat itu, setiap kiriman terasa berbeda. Lebih bermakna. Lebih hidup.

Awalnya, semuanya berjalan pelan. Sangat pelan.
Dalam sebulan, mungkin hanya satu buku yang terjual. Kadang bahkan tidak ada sama sekali. Tapi saya tetap mencoba. Tetap konsisten.
Saya mulai memanfaatkan TikTok. Membagikan sedikit demi sedikit isi buku. Tidak langsung ramai. Tidak langsung berhasil.
Tapi perlahan, ada yang mulai melihat.
Pesanan mulai masuk. Satu. Lalu dua. Dalam seminggu, saya mulai mengirim satu hingga dua buku. Jumlah yang mungkin kecil, tapi bagi saya itu adalah kemajuan.
Yang lebih mengejutkan, buku itu mulai dikirim ke tempat yang jauh. Tidak hanya sekitar Madura. Tapi sampai ke luar pulau. Bahkan ke Sulawesi.
Dari desa kecil ini, saya mulai menjangkau orang-orang yang bahkan belum pernah saya temui.
“Kadang kita tidak perlu bergerak jauh. Cukup kirimkan apa yang kita punya, dan biarkan ia yang berjalan.”
JNE menjadi bagian dari perjalanan itu. Mengantarkan setiap buku, satu per satu. Membawa sesuatu yang sederhana, tapi penuh harapan.
Dan dari situ, saya mulai percaya. Ini bukan lagi sekadar mencoba. Ini sudah menjadi perjalanan.
Saya tidak mengenalnya, tapi dampaknya terasa nyata.
Suatu hari, sebuah pesan WhatsApp masuk ke ponsel saya. Dari seseorang yang tidak saya kenal. Seorang pembeli buku saya.
Pesannya singkat.
“Akhirnya aku bisa lolos ujian Excel dalam tes kerja admin perusahaan, hasil belajar dari bukunya sampean, mas.”
Saya membacanya sekali. Lalu dua kali. Lalu saya diam.
Ada rasa hangat yang sulit dijelaskan. Sesuatu yang pelan-pelan memenuhi dada.
Selama ini saya hanya menulis. Mengirim. Menunggu. Tidak pernah benar-benar tahu sejauh apa buku itu berdampak.
Dan hari itu, saya tahu.
“Ternyata, apa yang kita kirim bisa sampai lebih jauh dari yang kita bayangkan.”
Bukan hanya sampai ke alamat. Tapi sampai ke hidup seseorang.
Saya tidak mengenalnya. Mungkin tidak akan pernah bertemu. Tapi di momen itu, saya merasa terhubung.
Dan itu cukup.

Bagi sebagian orang, JNE mungkin hanya tempat mengirim barang. Datang, kirim, selesai.
Tapi bagi saya, tidak sesederhana itu.
Dari desa kecil di Sumenep, saya tidak punya banyak akses. Tidak punya toko besar. Tidak punya jaringan luas. Yang saya punya hanya sebuah buku, dan keinginan untuk berbagi.
Di situlah JNE mengambil peran.
Agen yang dekat dari rumah. Petugas yang ramah. Proses yang jelas. Hal-hal sederhana, tapi sangat berarti bagi saya yang memulai dari nol.
Dari sana, buku saya mulai bergerak. Dari satu kota ke kota lain. Dari satu pulau ke pulau lain.
Bahkan sampai ke tempat-tempat yang belum pernah saya datangi.
“Kadang, kita tidak butuh jalan yang besar. Cukup jalan yang bisa menghubungkan.”
JNE menjadi jalan itu.
Bukan hanya mengirim buku. Tapi mengantarkan ilmu. Menghubungkan saya dengan orang-orang yang ingin belajar. Membuka kemungkinan yang sebelumnya terasa jauh.
Dan perlahan, saya mulai melihat. Apa yang saya lakukan dari desa kecil ini, ternyata bisa berdampak lebih luas.
Dari Desa Babbalan, Dusun Toros, perjalanan ini dimulai dari sesuatu yang sangat kecil. Satu buku. Satu paket. Satu langkah berani.
Hari ini, saya percaya setiap kiriman membawa cerita. Cerita tentang usaha. Tentang harapan. Tentang mimpi yang sedang bergerak.
Bersama JNE, saya tidak berjalan sendiri.
Karena di setiap paket yang saya kirim, ada bagian dari hidup yang ikut pergi. Dan di setiap paket yang sampai, ada cerita baru yang lahir.
“Bergerak bersama, ternyata bukan tentang seberapa jauh kita melangkah. Tapi seberapa banyak cerita yang bisa kita bawa.”
#JNE #ConnectingHappiness #JNE35BergerakBersama #JNEContentCompetition2026 #JNEBeragamCerita




